Kisah Di Balik Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok) - Antara Mitos dan Fakta (Part II)

Periode semasa Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok) adalah sebuah sebuah masa dimana muncul banyak tokoh hebat dalam sejarah China. Peristiwa Sejarah Sam Kok juga merupakan sebuah topik yang menarik untuk dibahas sepanjang masa. Mulai dari sejarah resmi, cerita legenda di masyarakat, cerita novel, hingga serial drama tv semua membahas kisah Sam Kok dari sisi berbeda. Lalu mana kisah mana yang sebenarnya lebih otentik di balik semua kisah yang selama ini diketahui secara umum?

Pada tulisan kali ini penulis akan melanjutkan serial kedua dari tulisan tentang Kisah Di Balik Sejarah Tiga Kerajaan – Antara Mitos dan Fakta (Part II). Tulisan kali ini kita akan membahas beberapa tokoh Sam Kok yang telah dikenal secara luas oleh para pecinta sejarah.

Berbicara mengenai topik Sejarah Sam Kok tidak terlepas dari kisah Pertempuran Chibi (Battle of Red Cliffs - 赤壁之战 – Chi Bi Zhi Zhan) yang sangat terkenal sepanjang masa. Dan berbicara mengenai Pertempuran Chibi ini membuat saya teringat akan sebuah puisi karangan Su Dongpo yang berjudul 念奴娇 - 赤壁怀古.

大江东去,浪淘尽,千古风流人物。
故垒西边,人道是,三国周郎赤壁。
乱石穿空,惊涛拍岸,卷起千堆雪。
江山如画,一时多少豪杰。
遥想公瑾当年,小乔初嫁了,雄姿英发。
羽扇纶巾,谈笑间,樯橹灰飞烟灭。
故国神游,多情应笑我,早生华发。
人生如梦,一尊还酹江月。

Terjemahan bebasnya kira-kira begini1:

Menelusuri sungai ke arah Timur hingga akhir deraian ombaknya
Teringat akan kisah para pahlawan di masa lalu
Jalan di sebelah barat adalah Chi Bi Zhou Lang pada masa Sam Kok
Melihat bebatuan di sana seolah menembus waktu melihat tumpukan kisah masa lampau
Dunia bagaikan sebuah lukisan yang mengambarkan berapa banyak pahlawan di masa lampau
Membayangkan Gongjin2 yang baru menikahi Xiao Qiao3
Dengan ikatan topi kepala dan kipas bulu burung
Dalam waktu sekejab sebuah senyuman
Membakar semuanya hancur menjadi debu
Dengan bebas berkelana, dengan penuh cinta dan kisah
Hidup bagaikan sebuah mimpi, semua kembali ke alam semesta.


Puisi ini ditulis oleh Su Dongpo pada saat berusia 47 tahun ketika mengunjungi tepian Sungai Chi Bi. Puisi Su Dongpo tersebut di atas mengambarkan sebuah kisah kepahlawanan Zhou Yu yang penuh dengan kegagahan dan romantisme di masa Sam Kok.

Zhou Yu (175 – 210) yang digambarkan pada puisi tersebut di atas pada saat kejadian Pertempuran Chibi, saat itu berusia 34 tahun, saat itu telah menikah dengan Xiao Qiao selama lebih kurang 10 tahun, bukan seperti gambaran puisi tersebut di atas yang mengatakan bahwa Gongjin baru menikahi Xiao Qiao.

Tapi di dalam puisi tersebut di atas, Su Dongpo sengaja menulis Gongjin baru menikahi Xiaoqiao tujuannya adalah untuk menggambarkan semangat dan gagahnya seorang Zhou Yu. Makanya di barisan berikutnya digambarkan Zhou Yu dengan ikatan topi kepala dan kipas bulu burung dan dalam waktu sekejab sebuah senyuman membakar semuanya hancur menjadi debu.

Gambaran Zhou Yu dengan dengan ikatan topi kepala dan kipas bulu burung ini adalah gambaran tentang seorang yang tampil elegant di zaman akhir Dinasti Han. Inilah gambaran tentang Zhou Yu yang sesungguhnya pada saat itu. Seorang yang elegant dan penuh kebebasan.

Mari kita bayangkan kembali peristiwa ketika terjadinya Pertempuran Chibi. Pada saat itu Cao Cao telah menguasai China bagian Utara. Cao Cao telah mengalahkan berbagai kekuatan militer lainnya seperti Yuan Shu, Lü Bu, Zhang Xiu, Yuan Shao, dan Liu Biao. Secara keseluruhan Cao Cao telah menguasai seluruh kekuatan militer di China bagian Utara. Pada saat ini Cao Cao berambisi untuk juga melakukan kampanye militer ke arah Selatan untuk sekaligus menguasai daerah Jiang Dong yang saat itu dikuasai oleh Sun Quan.  

Bagi Cao Cao ini adalah kesempatan untuk menyatukan dan menguasai seluruh Dataran China, tapi bagi kelompok Sun Quan ini adalah sebuah ancaman yang sangat serius. Pada saat itu Cao Cao menggerakan pasukan sebanyak lebih kurang 200.000 tentara4 ke arah Jiang Dong, membangun basis milternya di sisi Barat Laut Sungai Chang Jiang (sekitar kota Chibi di Propinsi Hu Bei saat ini).

Bisa di bayangkan lebih kurang 200.000 orang tentara membangun basis militer di tepi Sungai Chang Jiang saat itu, benar-benar memenuhi sisi Barat Laut sungai tersebut. Hal ini tentu membuat pihak Sun Quan yang berada di sisi lain Sungai Chang Jiang menjadi ciut hati. Para pejabat di pihak Sun Quan semuanya memberikan usul kepada Sun Quan untuk menyerah pada Cao Cao. Tapi Zhou Yu yang saat itu hanya berusia 34 tahun, sama sekali tidak memandang sebelah mata pada kekuatan militer Cao Cao yang begitu besarnya. Zhou Yu dengan berbagai strateginya yang luar biasa mengalahkan kekuatan militer Cao Cao yang  begitu besar, membakar semuanya hancur menjadi debu hanya dalam waktu sekejab sebuah senyuman.

Hal ini tentu berbeda dengan gambaran kisah Pertempuran Chibi dalam Novel Klasik Roman Kisah Tiga Negara (三国演义) karya Luo Guanzhong. Dalam Roman Kisah Tiga Negara, tokoh utama yang diagungkan adalah Zhuge Liang. Di novel ini Zhou Yu digambarkan sebagai seorang yang berhati sempit dan suka iri pada Zhuge Liang. Namum Zhou Yu yang sebenarnya menurut catatan sejarah yang sesungguhnya orang yang seperti apa?

Sebenarnya menurut catatan sejarah, Zhou Yu bukanlah seperti yang digambarkan dalam kisah Novel Klasik Roman Kisah Tiga Negara. Zhou Yu pada waktu berusia 24 tahun sudah diangkat menjadi seorang Jendral oleh Sun Ce, dan dipanggil dengan sebutan Zhou Lang (周郎). Kata Lang sendiri mempunyai arti “anak muda yang tampan”. Pada zaman dulu ada sajak yang berbunyi:

自古美女爱英雄 (Sudah sejak dahulu kala wanita cantik mengagumi pahlawan1)
自古嫦娥爱少年(Sudah sejak dahulu kala Chang E menyukai anak muda1)

Jadi wanita cantik paling suka dengan Pahlwan yang masih muda. Zhou Yu adalah gambaran seorang pahlawan tampan yang  muda pada saat itu, menikah dengan Xiao Qiao, salah satu diantara dua wanita paling cantik di Jiang Dong saat itu. Gambaran Zhou Yu pada saat ini adalah seorang anak muda yang tampan, karir militer yang cemerlang, dan juga punya istri yang cantik. Sebuah gambaran yang sangat membanggakan dan membuat semua orang iri hati pada saat itu.

Bisa bayangkan seorang Zhou Yu dengan semua hal ini, anak  muda dengan usia hanya 24 tahun sudah menjadi seorang Jendral besar, karir militer yang cemerlang, istri yang cantik, mungkinkah adalah seorang yang punya hati sempit dan suka iri hati pada orang lain seperti digambarkan dalam Roman Kisah Tiga Negara? Yang lebih realistis adalah orang lain yang iri pada Zhou Yu.

Beberapa catatan sejarah resmi juga menggambarkan Zhou Yu sebagai seorang yang berhati besar seperti berikut ini: 性度恢廓 (Catatan Sejarah Tiga Negara oleh Chen Shou), 气量颇大 (Penilaian Liu Bei terhadap Zhou Yu), dan 雅量高致 (Penilaian Jiang Gan terhadap Zhou Yu). Ketiga gambaran tersebut semuanya menggambarkan seseorang yang berhati besar dan hidup elegan.

Setiap tokoh sejarah mempunyai tiga gambaran yaitu:

  • Gambaran tokoh berdasarkan catatan sejarah;
  • Gambaran tokoh berdasarkan karya sastra;
  • Gambaran tokoh berdasarkan legenda di masyarakat.

Sebenarnya setiap orang dari kita mempunyai gambaran sendiri terhadap tokoh dalam sejarah. Makanya sering kali ketika kita menonton sebuah film sejarah, banyak diantara kita akan berkomentar: “pemeran ini tidak mirip dengan tokoh dalam sejarah, eh… ini Zhou Yu nya tidak mirip, ini Cao Cao nya tidak mirip, dll”. Emangnya kita pernah bertemu secara langsung dengan tokoh-tokoh tersebut sehingga kita bisa berkomentar demikian?

Dalam kisah Sam Kok, gambaran yang paling berlebihan (lebay) mungkin adalah gambaran tentang seorang Zhuge Liang. Berbicara mengenai Zhuge Liang kita semua akan teringat akan kisah Strategi Kota Kosong (空城计). Lalu bagaimana sebenarnya kisah di balik cerita tentang Strategi Kota Kosong? Nantikan tulisan saya berikutnya. 

 

  1. Ini adalah terjemahan bebas dari penulis yang mungkin tidak begitu sempurna mengingat sulitnya menterjemahkan puisi Bahasa Mandarin Kuno ke bahasa lain. Jika ada masukan dari teman-teman yang mengerti Bahasa mandarin, mohon masukannya di kolom komentar.
  2. Gongjin = nama kehormatan dari Zhou Yu (175 – 210).
  3. Xiao Qiao = salah satu dari dua wanita tercantik kakak beradik di Dong Wu di masa Sam Kok yang masing-masing dinikahi oleh Sun Ce dan Zhou Yu.
  4. Cao Cao mengklaim 800.000 tentara. Adalah hal yang lumrah menghiperbolakan jumlah kekuatan militer pada zaman dulu untuk memberikan efek psikis pada pihak lawan. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama