Kisah Di Balik Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok) - Antara Mitos dan Fakta (Part IV)


Pada tulisan sebelumnya kita membahas tentang setiap tokoh sejarah mempunyai tiga gambaran yaitu:

  1. Gambaran tokoh berdasarkan catatan sejarah;
  2. Gambaran tokoh berdasarkan karya sastra;
  3. Gambaran tokoh berdasarkan legenda di masyarakat.

Berbicara tentang gambaran tokoh SamKok berdasarkan legenda di masyarakat tentu tidak lepas dari tokoh seorang Guan Yu1. Dalam Kisah Sam Kok, Guan Yu mungkin adalah tokoh yang paling didewakan dalam kultur masyarakat China. Dalam kultur budaya masyarakat China, Guan Yu telah menjadi sosok seorang dewa yang bahkan sampai hari ini kuil/kelentengnya telah tersebar dimana-mana, dan menjadi sosok yang tidak bisa dihilangkan dari bagian kebudayaan China. Lalu bagaimana dan kenapa masyarakat China begitu mendewakan seorang Guan Yu?

Seorang Guan Yu bisa begitu didewakan dalam kultur budaya masyarakat China tak lain adalah karena Guan Yu sangat menjunjung tinggi nilai Loyalitas dan Kesetiaan2 (讲义气). Loyalitas dan Kesetiaan merupakan hal yang sangat ditekankan dalam kultur budaya masyarakat China kuno. Masyarakat China kuno bahkan rela mati untuk menjaga nama baik (baca Loyalitas dan Kesetiaan). Dan dalam hal ini, seorang Guan Yu adalah seorang gambaran yang sangat menjaga Loyalitas dan Kesetiaan pada Liu Bei3.

Pada tahun 200M, Cao Cao4 menyerang Propinsi Xu5(徐州)dan merebut kontrol propinsi Xu dari Liu Bei. Liu Bei melarikan diri ke arah utara China untuk  mencari suaka politik dari Yuan Shao6, sementara Guan Yu tertangkap oleh Cao Cao dan dibawa kembali ke Propinsi Xu.

Cao Cao memperlakukan Guan Yu dengan penuh respect dan bahkan mengangkat Guan Yu sebagai Pian Jiang Jun (偏将军 – Setara Letnan Jendral). Begitu juga sebaliknya, Guan Yu juga sangat berterima kasih pada Cao Cao atas segala perlakuan baik Cao Cao pada dirinya. Namun walaupun demikian, di dalam hati Guan Yu tetap menjaga Loyalitas dan Kesetiaan pada Liu Bei. Guan Yu akhirnya memutuskan untuk kembali ke pihak Liu Bei setelah dia membalas jasa kebaikan Cao Cao pada dirinya. Inilah nilai Loyalitas dan Kesetiaan yang tinggi dari seorang Guan Yu yang akhirnya membuat dirinya menjadi panutan dan legenda di masyarakat China kuno.

Tentu saja ketika Guan Yu meninggalkan Cao Cao, Cao Cao juga memperlihatkan kebesaran hati seorang pemimpin. Pada saat itu banyak bawahan Cao Cao yang mengusulkan untuk mengejar dan membunuh Guan Yu, namun Cao Cao menolak semua usulan itu. Cao Cao memilih untuk membiarkan Guan Yu pergi karena tergugah dengan Loyalitas dan Kesetiaan Guan Yu pada Liu Bei.

Tapi sayangnya di masyarakat, orang-orang hanya mengingat Loyalitas seorang Guan Yu dan tidak mengingat kebesaran hati seorang Cao Cao. Lalu bagaimana gambaran sesungguhnya seorang Cao Cao? Siapakah Cao Cao yang sebenarnya menurut catatan sejarah?

Cao Cao adalah salah satu tokoh yang paling banyak diperdebatkan sepanjang sejarah China, banyak ahli sejarah yang punya pandangan/pendapat berbeda tentang seorang Cao Cao. Cao Cao juga merupakan tokoh sejarah yang paling banyak gambarannya di masyarakat. Cao Cao menjadi tokoh yang paling banyak di puji juga di maki sepanjang sejarah China.

Setidaknya sejak masa Dinasti Song Utara, Cao Cao telah digambarkan menjadi seorang tokoh antagonis dalam sejarah. Pada zaman itu banyak tukang cerita jalanan yang menceritakan kisah sejarah. Setiap kali mendengar kisah Liu Bei gagal, maka para pendengar langsung ikut merasa sedih; begitu juga sebaliknya setiap kali mendengar kisah kegagalan/kekalahan Cao Cao, para pendengar langsung bersorak gembira. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Mulai tulisan berikutnya saya akan membahas secara mendetail beberapa tokoh penting dalam Kisah Sejarah Tiga Kerajaan. Setiap tokoh akan dibahas secara lebih mendetail dari berbagai sisi gambaran, baik dari sisi gambaran secara catatan resmi sejarah, gambaran karya sastra, maupun secara gambaran legenda di masyarakat.

Adapun tokoh pertama yang akan kita bahas secara mendetail adalah Cao Cao. Tentu saja kita juga akan kembali membahas beberapa tokoh yang sudah disebut di tulisan sebelumnya seperti Zhuge Liang, Guan Yu, dll.

 

  1. Guan Yu (? – 219M), Nama Kehormatan Yunchang, adalah seorang Jendral di bawah Liu Bei. Bersama Zhang Fei, Guan Yu memainkan peranan penting dalam membangun kerajaan Shu Han selama Periode Tiga Kerajaan.
  2. Loyalitas dan Kesetiaan (讲义气)merujuk pada kesetiakawanan baik dalam pertemanan, organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat China Kuno sangat menekanan pentingnya seseorang untuk mempunyai Loyalitas dan Kesetiaan yang tinggi dalam sebuah hubungan pertemanan. Pepatah kuno mengatakan, di dalam keluarga ada aturan keluarga, di negara ada hukum negara yang mengatur segalanya, begitu juga di dalam kehidupan dunia persilatan juga ada aturan dunia persilatan. Berbeda dengan hukum negara yang ada undang-undang hukum yang jelas; di dalam dunia persilatan aturannya diikat oleh Loyalitas dan Kesetiaan. Walaupun di dalam dunia persilatan penuh dengan bunuh membunuh di sana sini, tapi semuanya tetap menghormati aturan tidak tertulis yang diikat oleh aturan norma Loyalitas dan Kesetiaan. Hal ini tentu tak lepas dari besarnya pengaruh ajaran Konfusiusnisme di dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat China Kuno.
  3. Liu Bei (161 – 223M), Nama Kehormatan Xuande, adalah seorang Warlord (Panglima Perang) yang mendirikan Negara Shu Han selama Periode Tiga Kerajaan.
  4. Cao Cao (155 – 220M), Nama Kehormatan Mengde, adalah seorang Warlord (Panglima Perang) yang mendirikan Negara Cao Wei selama Periode Tiga Kerajaan.
  5. Propinsi Xu (徐州)sekarang terletak di Propinsi Jiangsu.
  6. Yuan Shao (? – 202M), Nama Kehormatan Benchu, adalah seorang Warlord (Panglima Perang) selama Periode Tiga Kerajaan. Yuan Shao menguasai daerah selatan China pada saat itu. Sebagai salah satu Panglima Perang yang paling kuat pada saat itu, Yuan Shao juga merupakan pemimpin aliansi para Warlord dalam kampanye melawan Dong Zhuo untuk menyelamatkan Kaisar Han Xian Di pada masa Akhir Dinasti Han. Yuan Shao akhirnya dikalahkan oleh Cao Cao dalam Pertempuran Guandu yang akhirnya membuat Cao Cao menguasai sebagian besar wilayah China pada saat itu.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama