Kisah Di Balik Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok) – Fakta dan Mitos Tentang Cao Cao (Part V)

Pada pembahasan sebelumnya kita telah membahas bahwa setiap tokoh sejarah mempunyai tiga gambaran yaitu: gambaran berdasarkan catatan sejarah, gambaran berdasarkan karya sastra, dan gambaran berdasarkan legenda di masyarakat.

Di dalam sepanjang Kisah Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok), Cao Cao adalah tokoh yang gambarannya paling banyak diperdebatkan sepanjang sejarah China. Berdasarkan catatan Su Dongpo1, setidaknya sejak zaman Dinasti Song Utara2, Cao Cao telah digambarkan sebagai seorang tokoh antagonis yang dibenci di masyarakat dalam sejarah China. Apalagi semenjak terbitnya Roman Tiga Negara3 oleh Luo Guanzhong4, Cao Cao lebih-lebih digambarkan sebagai seorang pengkhianat bangsa yang merebut kekuasaan Dinasti Han. Lalu bagaimana gambaran sesungguhnya seorang Cao Cao berdasarkan catatan sejarah?

Mulai tulisan ini dan beberapa tulisan berikutnya saya akan membahas secara mendatail fakta dan mitos tentang seorang Cao Cao. Kenapa Cao Cao? Karena kalau kita membahas tentang Sejarah Tiga Negara (Sam Kok) tentu tidak lepas dari Negera Wei, Negara Shu dan Negara Wu. Dan walaupun Negara Wei5 bukan didirikan oleh Cao Cao secara resmi, tapi bisa dikatakan bahwa pendiri sesungguhnya dari Negara Wei adalah Cao Cao sendiri. Walaupun sepanjang hidupnya Cao Cao tidak memproklamirkan dirinya sebagai seorang Kaisar, tapi Cao Cao lah yang meletakan semua pondasi berdirinya Negara Wei sejak awal.

Nama seorang Cao Cao tidak begitu bagus dalam Sejarah China. Dalam sepanjang Sejarah China, ada 3 gambaran yang menjadi perdebatan tentang penilaian terhadap seorang Cao Cao yaitu Jian Zei6 (奸贼), Jian Xiong7 (奸雄), dan Ying Xiong8 (英雄). Lalu gambaran mana yang sesungguhnya paling cocok yang menggambarkan seorang Cao Cao. Mari kita bahas secara lebih mendetail secara lebih objektif.

Ketika kita membahas tentang sejarah, terkadang sejarah itu sendiri sudah terlalu jauh sehingga kita sudah tidak bisa melihat secara langsung untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Berdasarkan catatan Su Dongpo, setidaknya sejak zaman Dinasti Song Utara, Cao Cao sudah menjadi tokoh antagonis yang dibenci oleh masyarakat China Kuno. Pada saat itu banyak tukang cerita kisah sejarah jalanan. Setiap kali para pendengar mendengar cerita tentang kegagalan Liu Bei, semua pendengar langsung merasa sedih, begitu juga sebaliknya ketika mendengar kisah tentang kegegalan/kekalahan Cao Cao, pendengar langsung bersorak gembira ria.

Lalu kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa Cao Cao bisa begitu dibenci oleh orang-orang? Hal ini tentu tidak lepas dari 3 gambaran berikut tentang Cao Cao:

  • Cao Cao orangnya licik;
  • Cao Cao merebut kekuasan Dinasti Han;
  • Perkataan Cao Cao yang terkenal, yaitu: “Lebih baik saya yang mengorbankan orang di seluruh dunia, daripada orang lain yang mengorbankan saya”.

Mari kita bahas satu persatu secara objektif. Jika kita bicara tentang Cao Cao orangnya licik, tentu hal ini tidak objektif. Pada zaman perang tentu semua orang menggunakan segala macam strategi untuk berperang agar bisa mengalahkan musuh. Kebanyakan orang ketika menilai orang yang dipihaknya akan mengatakan: wah…  ini penuh strategi yang mantap dan hebat, tapi sebaliknya ketika strategi yang sama dipraktekan oleh pihak musuh, kebanyakan orang akan menilai dengan perkataan: wah… ini menggunakan strategi yang licik. Tentu ini tidak bisa jadikan sebagai patokan untuk mengatakan Cao Cao sebagai penjahat hanya karena dia menggunakan strategi perang yang licik untuk menghadapi musuh-musuh politiknya, toch bukannya lawan politiknya juga menggunakan strategi yang sama ke orang lain? Semuanya tergantung kita berapa di pihak yang mana. Jika seseorang berada di pihak Cao Cao, tentu dia tidak akan menganggap Cao Cao menggunakan strategi yang licik, sebaliknya malah akan memuji Cao Cao sebagai seorang ahli strategi perang yang hebat/lihai.

Yang kedua, Cao Cao merebut kekuasaan Dinasti Han. Hal ini tentu juga tidak objektif. Atas dasar apa Dinasti Han harus tetap bertahan selamanya? Atas dasar apa bahwa seorang Kaisar harus selamanya bermarga Liu dan tidak boleh bermarga Cao? Bukankah sepanjang sejarah China, kerajaan lama tumbang oleh kerajaan baru itu adalah sesuatu hal yang lumrah? Mana ada sebuah kekuasaan kerajaan yang bertahan selamanya? Lalu emangnya ada jaminan bahwa masyarakat hidup lebih damai dan makmur di bawah Dinasti Han? Bukankah fakta sejarah menyatakan bahwa di masa akhir Dinasti Han ditandai dengan berbagai bencana alam yang luar biasa, ditambah dengan kekuasaan kasim yang begitu besar dan korupsi dimana-mana, sehingga banyak rakyat yang hidup menderita sengsara dan mati kelaparan, akibatnya terjadi pemberontakan terjadi dimana-mana. Malahan semenjak Cao Cao berkuasa, kehidupan rakyat jelata menjadi jauh lebih baik dan terjamin. Jadi penilaian yang menyebutkan Cao Cao sebagai seorang penjahat hanya karena dia merebut kekuasaan dari Kaisar Han Xiandi9 tentu juga tidak objektif dan tidak bisa dijadikan sebagai acuan untuk mencap Cao Cao sebagai seorang penjahat.

Yang ketiga, perkataan Cao Cao yang terkenal, : “Lebih baik saya yang mengorbankan orang di seluruh dunia, daripada orang lain yang mengorbankan saya”. Menurut saya mungkin perkataan Cao Cao inilah yang membuat Cao Cao dianggap sebagai seorang tokoh penjahat/antagonis dalam sepanjang sejarah China. Seorang yang lebih rela mengorbankan kehidupan semua orang di dunia daripada dirinya dikorbankan oleh orang lain, tentu saja ini sudah keterlaluan. Perkataan ini juga sangat kontras dengan perkataan dari Liu Bei yang menyatakan lebih baik dia dikorbankan/dikhianati oleh orang lain daripada dia yang harus mengorbankan/mengkhianati orang lain.

Lalu apakah benar Cao Cao pernah mengatakan perkataan tersebut tersebut di atas yang mengakibatkan dia dibenci sepanjang sejarah China? Jika ternyata Cao Cao tidak pernah berkata seperti demikian, bukankah ini menjadi sebuah fitnah sejarah bagi seorang Cao Cao? Sebenarnya menurut beberapa catatan sejarah, perkataan Cao Cao ini masih menjadi perdebatan banyak ahli sejarah. Awal mula perkataan ini berasal dari kisah di bawah berikut ini.

Pada saat itu Dong Zhuo10 ingin menangkap Cao Cao, dan Cao Cao melarikan diri dari kota, singgah ke rumah seorang teman lamanya yang bernama Lii Boshe. Waktu Cao Cao sampai di rumah Lii Boshe, Lii Boshe tidak berada di rumah. Lalu terjadilah insiden pembunuhan satu keluarga Lii Boshe oleh Cao Cao. Cerita ini ada 3 versi.

Versi pertama menceritakan bahwa Lii Boshe  tidak ada di rumah, keluarga Lii Boshe melihat Cao Cao membawa banyak uang emas permata, lalu timbul niat hati ingin merebutnya dari Cao Cao. Akhirnya Cao Cao membunuh mereka semua. Jika melihat versi ini, maka ini boleh dikatakan bahwa Cao Cao  membela diri, dan tentu tidak bisa disalahkan. Versi cerita ini tercatat dalam sejarah resmi Negara Wei (Wei Shu). Tentu saja ini adalah versi sejarah resmi Negara Wei, dan Cao Cao sendiri adalah pendiri Negara Wei, jadi hal ini bisa jadi tidak objektif, karena tentu saja penulis sejarah resmi Negara Wei pasti akan menulis yang baik-baik tentang Cao Cao.

Versi kedua menceritakan bahwa Cao Cao tinggal di rumah Lii Boshe dan mendengar keluarga Lii Boshe sedang mengasah pisau, Cao Cao yang waktu itu dalam pelarian dari Dong Zhuo, dikejar-kejar oleh seluruh petugas kerajaan, tentu di dalam hatinya selalu penuh dengan waspada dan curiga. Lalu timbul rasa curiga di dalam hati Cao Cao sehingga membunuh keluarga Lii Boshe. Dalam kasus ini boleh disebut sebagai pembunuhan terjadi karena kesalahpahaman.  

Versi ketiga lebih kurang sama dengan versi kedua, yaitu Cao Cao timbul rasa curiga dan lalu membunuh Lii Boshe sekeluarga. Setelah membunuh Lii Boshe sekeluarga. Di Catatan Sejarah Tiga Kerajaan Karya Chen Shou ditulis: 凄怆曰:宁我负人,毋人负我。Artinya Cao Cao dengan sedih dan menyesal berkata: Lebih baik saya mengorbankan orang lain daripada orang lain yang mengorbankan saya. Di sini ada ditekankan kata Cao Cao berkata dengan sedih dan menyesal. Banyak perdebatan oleh para ahli sejarah di sini tentang kondisi psikologis Cao Cao saat itu bahwa sebenarnya Cao Cao menyesali perbuatannya telah membunuh orang yang tidak bersalah, Cao Cao mengatakan kalimat di atas hanyalah sebatas untuk menghibur diri sendiri saja.

Namun ketika cerita ini sampai pada Roman Tiga Negara Karya Luo Guanzhong, kata-kata ini berubah menjadi: 宁教我负天下人,休教天下人负我。Ditambahkan kata 天下 yang bisa berarti seluruh dunia, artinya menjadi “Lebih baik saya yang mengorbankan orang di seluruh dunia daripada orang lain yang mengorbankan saya”. Dengan ditambahkannya kata “seluruh dunia”, tentu saja artinya jadi berubah. Tentu saja seseorang akan dianggap sebagai seorang yang jahat yang sampai rela mengorbankan orang di seluru dunia demi keegoisan pribadinya.

Walaupun demikian, pada zaman Dinasti Qing ada seorang sastrawan yang bernama Mao Zonggang yang memberikan komentar seperti demikian: walaupun seandainya Cao Cao licik/jahat seperti diceritakan di Roman Tiga Negera, tapi setidaknya Cao Cao adalah seorang yang berani jujur untuk mengakui kelicikan/kejahatannya. Tidak seperti kebanyakan orang lain yang hanya selalu di mulut bilang lebih baik diri sendiri yang harus dikorbankan daripada harus mengorbankan orang lain, namum pada kenyataannya  malah melakukan yang sebaliknya seperti yang dilakukan oleh Cao Cao. Jadi Mao Zonggong menyimpulkan Cao Cao sebagai seorang orang jahat/licik yang berani jujur, dan bukannya seorang budiman/orang baik yang penuh dengan kepalsuan.

Di dalam kelicikan/kejahatan seorang Cao Cao terdapat sebuah keberanian untuk mengakuinya. Inilah sosok pribadi seorang Cao Cao yang sesungguhnya. Ini adalah salah satu bagian yang harus kita saluti dari seorang Cao Cao.

Ok, demikian pembahasan tentang Cao Cao pada tulisan kali ini, pada tulisan berikutnya kita akan membahas secara lebih mendalam tentang kelicikan Cao Cao dalam menggunakan strategi perangnya dalam mengalahkan musuh-musuh politiknya. Strategi “licik” seperti apa yang digunakan oleh seorang Cao Cao? Nantikan di tulisan berikutnya.

 

  1. Su Shi (1037 – 1101 Masehi), nama kehormatan Zi Zhan, dengan nama pena Dongpo, adalah seorang sastrawan, penulis, penyair, politisi, pelukis yang terkenal pada zaman Dinasti Song.
  2. Dinasti Song Utara (960 -1127 Masehi)
  3. Roman Tiga Negara: 三国演义 atau Romance of the Three Kingdoms adalah sebuah roman berlatar belakang sejarah dari Dinasti Han dan Tiga Negara yang ditulis oleh Luo Guanzhong pada zaman Dinasti Ming. Roman Kisah Tiga Negara ini merupakan salah satu karya sastra klasik yang paling populer di dalam sejarah Tiongkok. Kisah di dalam Roman ini dibuat sedemikian dramatis dan menjadi salah satu dari Empat Karya Sastra Termansyur dalam sepanjang Sejarah China.
  4. Luo Ben (1280 – 1360 Masehi), Nama Kehormatan Guanzhong adalah seorang sastrawan terkenal dari zaman Dinasti Ming. Ia adalah penulis dari kisah Novel Kisah Tiga Negara dan editor dari buku Tepi Air (水浒传).
  5. Negara Wei (220 – 266 Masehi) adalah salah satu Negara yang berkompetisi untuk merebut hegemoni kekuasaan China pada zaman Tiga Negara.
  6. Jianzei (奸贼) adalah sebuah untuk licik dan jahat.
  7. Jianxiong (奸雄) adalah sebutan untuk seorang yang berkuasa dan mempunyai pengaruh yang besar serta bisa melakukan hal besar di dalam hidupnya, namun disertai dengan kelicikan di dalam dirinya.
  8. Yingxiong (英雄) secara harfiah mempunyai arti seorang pahlawan. Namun di dalam konteks sini lebih mempunyai arti sebagai seorang yang mampu untuk melakukan hal besar di dalam hidupnya, mempunyai kekuasaan besar yang bisa memberikan pengaruh pada kehidupan orang banyak di suatu negara.
  9. Han Xiandi (181 – 234 Masehi), Emperor Xian of Han, Nama Liu Xie, dengan Nama Kehormatan Bohe, adalah Kaisar terakhir Dinasti Han di China.
  10. Dong Zhuo (? – 192 Masehi), Nama Kehormatan Zhongying, adalah seorang Jendral Militer (Warlord) pada akhir zaman Dinasti Han.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama