Pengalaman XiaoKang Dengan CORONA alias COVID-19

Ini adalah cerita tentang Covid-19 alias Corona. Yeah… Corona itu nyata adanya, bukan hoax. Covid-19 is real, not a hoax.

Yeah… setelah lebih dari satu tahun masa pandemi corona, karena tuntutan kebutuhan bisnis dan kerja, saya masih selalu aktif berpergiaan kemana-mana baik itu melalui transportasi darat pakai mobil pribadi, maupun transportasi udara pake pesawat, yach… pake pesawat karena saya bukan superman yang bisa terbang sendiri. Coba kalau saya superman, saya pasti pilih terbang sendiri aja dech.

Bicara tentang taat prokes? Yach… selama berpergian saya selalu taat prokes mulai dari pakai masker, jaga jarak, dan abis pulang langsung mandi. Sejak awal waktu masker masih muahaall bangat, satu box sampai 500rb aja saya beli untuk pakai, apalagi sekarang harga masker hanya tinggal 30-50rb aja per box, ga mungkin ga beli maskernya uda murah gitu kan? Bicara soal jaga jarak, yeah... tetap jaga jarak juga, tidak salaman tangan. Tapi yach… jujur namanya orang Indonesia, adat sopan santunnya masih tinggi, kalau ketemu tidak mungkin tidak makan minum kan, dan yang namanya makan minum itu tidak mungkin tidak pakai masker juga.

Selain itu apalagi kalau uda namanya ke kampung-kampung ketemu ama supplier di sana, tidak ada yang pakai masker sama sekali. Orang-orang di kampung juga tidak mau mengerti, selalu ngotot bilang, “tenang aja bos, di sini tidak ada corona, yang ada corona itu di kota aja, jadi tidak perlu pakai masker lah”. Saya selalu bilang, saya bukan takut kena corona dari mereka, tapi yang saya takutkan adalah saya yang membawa corona ke mereka. Kalau di kota mah enak, fasilitas rumah sakit lengkap, pelayanan rumah sakit juga sangat ok, apalagi kalau uda pilih kamar vip, serasa masuk hotel berbintang dah. Lah… kalau di kampung? Rumah sakit aja ga ada, yang ada hanya puskesmas kecil dengan fasilitas seadanya saja. Tenaga medisnya juga seadanya. Gimana kalau mereka  kena? Yach… syukur kalau tidak parah-parah amat. Tapi mereka pada ga mau ngerti, ngotot ga usah pake masker, akhirnya buka masker makan bersama, foto-foto bersama juga. Tapi syukur juga, kali ini saya ketularannya emang bukan dari kampung sih… artinya kemungkinan kampung-kampung  supplier yang selama ini saya kunjungi mungkin masih aman, dan semoga mereka semua sehat selalu juga.

Bicara tentang hidup sehat? Daya imum tinggi atau rendah? Saya tidak tahu daya tahan imum tubuh saya tinggi atau rendah, karena saya tak pernah test. Tapi kalau bicara masalah hidup sehat, saya rasa selain yang namanya atlet, jarang ada orang yang seperti saya, saya konsisten jogging minimal 5 (lima) kali seminggu (kadang kalau lagi santai bisa 7 hari seminggu olahraga terus tiap hari). Sekali jogging minimal 7-8km, sesekali jogging 15-20km juga. Itu belum termasuk sebelum mulai jogging biasa diawali dengan jalan kaki untuk pemanasan sejauh 3-4km dulu, dan selesai jogging dilanjuti dengan pendinginan jalan 2km lagi. Itu hanya paginya aja, kalau sorenya lagi santai, saya bisa jogging 5km lagi lho, juga sama diawali dengan pemanasan 2-3km, dan pendinginan 1-2km jalan.

Over ga? Saya rasa sich nga, rutinitas ini sudah saya lakukan selama lebih dari 10 tahun, dan selama ini selalu merasa baik-baik aja dengan rutinitas olahraga seperti ini. Serasa kayak uda mau jadi atlet aja dech.

Bicara pola makan saya juga sangat jaga selama ini, saya telah menerapkan pola diet makan vegan sejak saya masih SMP dulu, dan selama ini saya sangat sehat, tidak pernah ada keluhan sakit apapun juga, demam batuk pilek aja belum tentu setahun sekali (perasaan saya kayaknya bertahun-tahun juga tak pernah demam batuk pilek dech). Saya hanya punya riwayat asam lambung saja, itu pun baru sejak tahun lalu, sekali aja. Setelah itu selama ini saya tidak pernah ada keluhan kesehatan apapun juga. Jadi saya merasa secara kesehatan saya ini termasuk orang yang sangat prima dech…. Tapi…. Yeah, akhirnya saya tetap kena juga dengan yang namanya Corona alias Covid-19 ini.

Dimana kenanya? Saya sendiri tidak bisa memastikan. Saya pikir saya urutkan ke 2 minggu belakang sebelum saya kena dech. Akhir bulan April, saya diajak teman untuk ke Lombok guna hiking Gunung Rinjani. Berangkat dari Jakarta saya rapid test antigen masih aman, artinya di sana saya belum kena donk. Abis hiking, setelah teman-teman saya pulang, saya sempat tinggal 2 hari di Lombok untuk ketemu beberapa client saya di sana, selama  di sana saya hanya ketemu ngobrol aja bentar, dan juga masih jaga prokes yang ketat, harusnya juga bukan dari sana. Dan juga waktu mau pulang ke Jakarta tgl 5 Mei, saya harus rapid test antigen lagi, dan hasilnya masih negatif, artinya seharusnya saya bukan kena dari pulau Lombok.

Sehabis saya pulang ke Jakarta, saya naik taxi dari bandara ke rumah. Selama beberapa hari saya emang sempat ketemuan dengan beberapa orang, dan makan-makan bersama dengan beberapa client yang di Jakarta. Saya pikir mungkin saya kenanya dari sini.

Gimana rasanya? Awal-awal sejak tgl 14-15 saya mulai merasa demam dan badan terasa meriang. Awalnya saya pikir biasa aja. Saya tangani dengan makan Panadol Paracetamol 500mg aja dan vitamin C aja langsung sudah sembuh. Karena merasa sudah sehat, tanggal 16 saya memulai pagi saya dengan aktivitas olahraga seperti biasa, pagi itu saya awali dengan lari 8k lagi. Siangnya langsung saya merasa badan ngedrop lagi, merasa mulai demam dan meriang lagi, saya makan Panadol paracetamol 500mg dan vitamin, lalu sorenya saya merasa baikan lagi.  Karena santai ga ada kegiatan apa-apa, sorenya saya olahraga jalan kaki aja lagi 5km, abis jalan malamnya langsung mulai merasa demam dan meriang lagi, tapi tidak separah waktu siang. Kembali saya makan Panadol dan vitamin C, hanya dalam beberapa jam saya sudah merasa segar lagi.

Keesokan harinya  tgl 17 Mei, pagi-pagi saya bangun sudah merasa sangat segar, sehat tidak ada apa-apa lagi. Saya pikir biar tambah sehat saya olahraga lari jogging lagi sebanyak 7km. Siangnya saya langsung merasa drop, kali ini lebih parah dari kemarin, demamnya tinggi dan seluruh tubuh sakit meriang. Saya kembali makan Panadol dan Vitamin C, tapi kali ini rasanya sudah tidak mempan lagi. Sorenya saya rapid test antigen, ternyata sudah positif. Sampai malamnya kondisi saya makin parah, demam makin tinggi, dan seluruh tubuh sakit meriang, kembali saya makan Panadol dan Vitamin C, tetap aja tidak ada efeknya sama sekali. Sepanjang malam saya merasa gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak karena seluruh badan terasa sangat sakit sekali.

Pagi tgl 18 Mei, saya mulai merasa tenggorokan saya kering. Suhu badan makin tinggi dan seluruh badan makin sakit. Saya pikir tidak bisa begini terus, akhirnya saya putuskan untuk opname di rumah sakit aja biar lebih aman. Saya langsung kontek teman saya (Khientong) yang kebetulan juga agent Asuransi untuk minta rekomendasi rumah sakit mana yang bagus untuk rawat inap. Saya direkomendasikan untuk ke Rumah Sakit Mayapada Tangerang.

Sesampainya di rumah sakit saya mendapatkan perawatan, dan di kasih obat bejibun (istilah orang kalimantan untuk sangat banyak) untuk sekali makan aja. Setelah mendapat perawatan, langsung malamnya saya sudah merasa baikan, dan besoknya saya sudah bisa kembali bergaya di media sosial, haha. Dan hari ini tgl 20 Mei, saya sudah merasa sangat baik, sudah tidak demam batuk pilek lagi, tenggorokan masih terasa sedikit kering, tapi sudah tidak seperti kemarin, tapi masih belum keluar dari rumah sakit karena masih menunggu hasil CT berikutnya kalau sudah di ambang batas aman tidak menular ke orang lain lagi baru saya akan keluar dari rumah sakit.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari pengalaman kali ini?

  1. Jangan takabur! Yach… jangan merasa diri sendiri sangat sehat dan tidak mungkin bisa terpapar virus corona ini. Saya rasa kalau bicara masalah hidup sehat, jarang ada orang yang rutin olahraga seperti saya. Pola makan saya juga sangat sehat, vegan dengan giji teratur, tidak makan yang berminyak, gorengan jarang walaupun sesekali tetap ada, sesekali diet OMAD. Jangan anggap enteng, karena saya sakit meriangnya itu luar biasa, beda dengan demam biasa. Saya selama ini pikir saya orang yang kuat, ternyata ketika demam tinggi dan meriang, saya bisa KO juga, mau jalan aja susah, seluruh badan terasa sakit. Jadi sekali lagi jangan TAKABUR.

  2. Tentang olahraga. Awalnya saya merasa sudah sehat dan mulai olahraga biar tambah sehat, langsung saya ngedrop. Belakangan saya baca di HaloDoc baru ngerti kalau di dalam tubuh masih ada virusnya, tidak disarankan untuk olahraga, terutama olahraga berat. Yah.. mungkin kemarin saya baru membaik langsung olahraga  berat, jadi langsung ngedrop parah. Tapi tentu saja jangan duduk baring aja seharian tanpa gerak badan, itu juga tidak sehat. Bagaimanapun juga tetap harus olahraga gerak-gerak badan biar lebih segar dan sehat. Dan kalau sudah sembuh, tetap disarankan untuk kembali olahraga seperti biasa sich. (link di: https://www.halodoc.com/artikel/terinfeksi-virus-corona-tanpa-gejala-boleh-tetap-olahraga).

  3. CORONA alias COVID-19 itu nyata. Yach.. CORONA itu bukan hoax. Ini untuk sebuah jawaban bagi seorang teman saya yang berprofesi sebagai seorang dokter (dr. Rusiawati) di Kabupaten Sekadau di pedalamnan Kalimantan Barat. Setiap hari saya lihat dia posting mengedukasi pasien dia tentang bahaya Covid-19. Dan katanya banyak pasien ataupun warga di sana yang tidak mempercayai tentang virus corona, malah menganggap corona itu hoax, hanya akal-akalan pemerintah dan dokter semua dikategorikan sebagai corona untuk mencari uang. kayaknya bukan hanya di Sekadau aja dech, kayaknya fenomena ini terjadi di seluruh Indonesia, bahkan di banyak negara maju tetap aja ada golongan yang percaya tentang teori konspirasi tentang bumi datar, dan teori konspirasi bahwa corona itu hanyalah hoax.

    Sekedar info aja, ini kemarin saya mau minta rawat inap aja ga boleh. Waktu saya tiba di rumah sakit, ada 4 pasien lain yang lagi proses minta rawat inap tapi ditolak
      oleh rumah sakit dengan alasan  kadar SpO2 masih di atas 90, kamar rumah sakit itu hanya prioritas untuk pasien yang uda parah, yang SpO2 nya uda dibawah 90, artinya uda bisa mati mendadak tuch baru diijinkan opname di rumah sakit. Artinya kalau ini hanya akal-akalan dokter saja untuk mencari uang, pasti tuch mereka semua yang mau nginap itu langsung di-OK kan untuk rawat inap, biar dokternya bisa cuan lebih banyak, ngapain juga ditolak, betulkan? Lah… kog saya yang belum parah, SpO2 masih diatas 96 boleh rawat inap? Itu syaratnya harus bayar sendiri coy, dan siap-siap aja puluhan juta atau bahkan mungkin ratusan juta untuk melayang coy, atau minimmal lu harus punya asuransi swasta yang siap menjamin bro. Kalau lu pake BPJS, siap-siap aja lu tunggu uda sekarat baru diterima tuch untuk rawat inap, artinya tunggu bisa mati mendadak baru boleh rawat inap di rumah sakit. Jadi sekali lagi saya tekankan, CORONA itu nyata, bukan HOAX. Atau jangan-jangan saya ini juga bagian dari konspirasi dan cerita HOAX? Oh... No!

Demikian pengalaman saya dengan CORONA selama beberapa hari ini. Gila… ga terasa panjang juga yach tulisan ini, rasanya saya sudah boleh beralih profesi jadi penulis nih. Oh yach… adapun tujuan dari tulisan saya yang panjang kayak cerpen (belum sepanjang novel yach) adalah untuk meningkatkan awareness di masyarakat, bahwa seorang yang sehat, rajin olahraga, jaga pola makan sehat seperti ini saja bisa terpapar corona juga, dan itu rasanya sangat tidak enak. Sebenarnya banyak teman di sekeliling saya juga kemarin ketika saya tanya juga sudah pernah terpapar CORONA, ada yang parah, ada yang hanya sebatas OTG aja, tapi  karena stigma tentang CORONA yang selama ini beredar di masyarakat itu kesannya tidak bagus, rata-rata dari mereka merahasikan kalau mereka pernah terpapar COVID-19. 

Tapi untuk meningkatkan awareness di masyarakat, terlepas apapun stigma pandangan masyarakat terhadap orang yg pernah terpapar oleh corona, saya akhirnya tetap menerbitkan tulisan pengalaman saya ini.

Tujuan dari tulisan panjang ini hanya untuk meningkatkan awareness di sekeliling kita bahwa Covid-19 itu nyata, bukan hoax belaka.

Beruntung saya mempunyai previledge untuk bisa di rawat di rumah sakit dengan kamar VIP, dengan segala pelayanan yang sangat bagus, kunjungan dokter dua kali sehari, suster ga tahu berapa kali dah sehari, makan dan snack lengkap diantar terus. Pokoknya pelayanannya super deh. Tapi tidak semua orang punya previledge seperti ini, jadi lebih baik jangan sakit yach. Salam sehat selalu untuk kita semua!








2 Komentar

  1. Cepat sembuh Xiao Kang, sangat berarti dan berguna tulisan blog mu. Tuhan Memberkati 🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih! Salam sehat selalu untuk kita semua.

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama