Kisah Di Balik Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok) – Fakta dan Mitos Cao Cao (Part VI)

Pada tulisan kali ini kita masih akan membahas tentang pribadi seorang Cao Cao. Pada pembahasan sebelumnya kita membahas bahwa Cao Cao adalah seorang yang licik yang berani dengan lantang mengakui segala kelicikannya. Cao Cao adalah seorang orang jahat/licik yang berani jujur, dan bukannya seorang budiman/orang baik yang penuh dengan kepalsuan.

Berbicara tentang kelicikan Cao Cao dalam berstrategi bisa dilihat dari kasus perang Cao Cao dan Yuan Shao di Pertempuran Guandu.

Seperti yang kita ketahui, selama periode Sam Kok ada tiga perang utama yang terjadi yaitu:

  1. 官渡之战 – Battle of Guandu (Pertempuran Guandu)1
  2. 赤壁之战 – Battle of Red Cliffs (Pertempuran Chibi / Pertempuran Tebing Merah)2
  3. 夷陵之战 – Battle of Yiling / Xiaoting (Pertempuran Yiling / Pertempuran Xiaoting)3

Pertempuran Guandu adalah perang yang menentukan bagi Cao Cao. Setelah kejadian perang Pertempuran Guandu lah Cao Cao mengkukuhkan hegemoni kekuasaannya terhadap China bagian utara.

Pertempuran Guandu terjadi sekitar tahun 200 M antara pihak Cao Cao dan Yuan Shao. Cao Cao dengan kekuatan militer yang hanya sekitar 40.000 pasukan berhasil mengalahkan Yuan Shao yang mempunyai kekuatan militer sebesar 110.000 pasukan4.

Pada saat Pertempuran Guandu terjadi, walaupun Cao Cao memenangkan beberapa pertempuran di awal, tapi Cao Cao segera kehabisan persediaan makanan untuk pasukan. Hal ini tentu adalah hal yang krusial dalam sebuah kampanye militer. Seperti kata pribahasa China kuno: 兵马未动,粮草先行 (bīng mǎ wèi dòng, liáng cǎo xiān xíng) yang artinya sebelum memulai sebuah pertempuran, harus mempersiapkan persediaan makanan terlebih dahulu. Jika Cao Cao kehabisan persediaan pasokan makanan, tentu Cao Cao akan segera kalah dalam pertempuran tersebut.

Pada saat inilah ada seorang yang bernama Xu You5 dari pihak Yuan Shao yang berbelot ke pihak Cao Cao. Ketika Cao Cao mendengar kabar ini langsung dengan gembira keluar menyambut Xu You. Di Catatan Sejarah Tiga Negara di tulis: 跣足而出 (xiǎn zú ér chū), yang artinya keluar tanpa memakai alas kaki sama sekali. Lalu apa maksud daripada Cao Cao keluar menyambut Xu You tanpa memakai alas kaki?

Ada dua kemungkinan yaitu: yang pertama karena saking gembiranya Cao Cao tidak sempat pakai sepatu, yang kedua adalah mereprenstasikan penghormatan terhadap tamu yang disambut. Hal ini karena dalam budaya China kuno, tidak memakai alas kaki adalah reprenstasi dari hormat pada orang lain.

Seperti yang kita ketahui ketika Cao Cao sudah mencapai hegomoni kekuasaan yang sangat tinggi, Kaisar Han Xiandi memberikan hak istimewa kepada Cao Cao untuk 带剑鞋履上殿 (dài jiàn xié lǚ shàngdiàn) yang artinya boleh membawa pedang dan memakai sepatu untuk masuk ke dalam istana kerajaan. Budaya pada saat itu, para pejabat dilarang untuk memakai sepatu masuk ke istana untuk bertemu dengan kaisar; apalagi membawa pedang, lebih-lebih tidak diijinkan. Boleh pakai kaus kaki ga? Tergantung posisi jabatannya, jika posisi jabatannya lumayan tinggi masih boleh memakai kaus kaki untuk memasuki istana kerajaan, namun jika jabatannya rendah, maka wajib melepaskan semua alas kaki dan masuk ke istana dengan telanjang kaki.

Jadi di sini Cao Cao keluar menyambut kedatangan Xu You dengan tanpa memakai alas kaki juga ada kemungkinan adalah reprentasi atas rasa senang dan hormat Cao Cao pada kehadiran seorang Xu You. Cao Cao segera mengundang Xu You masuk ke dalam tenda militernya dan membahas tentang situasi pertempuran pada saat itu.

Xu You bertanya pada Cao Cao tentang berapa banyak sisa persediaan makanan yang ada pada pihak Cao Cao yang dijawab oleh Cao Cao masih bisa bisa bertahan lebih kurang 1 tahun lagi. Xu You ketawa dan berkata: “Tidak, Anda berbohong, tolong jujurlah padaku.” Cao Cao kembali menjawab: “Setengah tahun, yach… jujur persediaan makananku hanya bisa bertahan setengah tahun lagi.” Kembali Xu You berkata: “kenapa Anda masih tidak jujur pada seorang teman lama seperti saya?” Cao Cao terkejut dan kemudian berkata dengan jujur: “Anda benar-benar bisa mengetahui duka diriku, jujur saat ini persediaan makanan di pihak saya hanya bisa bertahan satu bulan lagi. Aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.”

Di dalam Cao Man Zhuan6 ditulis bahwa Xu You berkata:

公孤军独守,外物救援,而粮谷已尽,此危机之日也 (Gōng gūjūn dú shǒu, wài wù jiùyuán, ér liáng gǔ yǐ jìn, cǐ wéijī zhī rì yě) yang artinya: Tuan, Anda dengan pasukan sendirian, tanpa ada bantuan dari luar, sementara persediaan makanan sudah menipis, ini benar-benar sangat bahaya.

Xu You segera memberikan informasi kepada Cao Cao bahwa Yuan Shao menyimpan persediaan makanan di daerah Wu Chao dan menyarankan Cao Cao untuk menyerang daerah tersebut. Dengan diserangnya daerah tempat penyimpanan persediaan makanan tentara Yuan Shao, maka pasukan Yuan Shao yang begitu besar akan segera kehabisan makanan dan akan segera berada dalam situasi chaos. Cao Cao segera mengaplikasikan saran dari Xu You dan memimpin sendiri pasukan untuk menyerang daerah Wu Chao. Cao Cao berhasil merebut daerah Wu Chao dan segera mengubah alur pertempuran sehingga menjadi berada di atas angin, yang akhirnya lalu berhasil mengalahkan pihak Yuan Shao.

Lalu pertanyaan apakah Cao Cao licik dalam hal ini? Semua kembali tergantung dari sisi mana kita memandang hal ini. Jika kita berada di pihak Cao Cao, maka kita akan memujinya sebagai sebuah strategi yang brilian, sebaliknya yang berada di pihak Yuan Shao akan menganggap Cao Cao sangat licik dalam hal ini. Semua kembali tergantung pada sudut objektifitas kita memandang sesuatu.

Di sisi lain, Cao Cao juga merupakan seorang yang penuh dengan lemah lembut dan penuh kasih. Dalam satu kisah ketika Cao Cao berperang melawan Zhang Xiu7, salah seorang anak Cao Cao yang bernama Cao Ang8 tewas dalam pertempuran. Sebenarnya awalnya Zhang Xiu sudah menyerah ke pihak Cao Cao, namun karena Cao Cao juga mengambil bibinya Zhang Xiu yang merupkan seorang wanita cantik untuk dijadikan selir. Zhang Xiu yang merasa terhina akan hal ini lalu kembali memberontak dan mengakibatkan Cao Cao mengalami kekalahan besar secara mendadak. Dalam hal ini Cao Cao selain kehilangan putranya yang bernama Cao Ang, Cao Cao juga kehilangan seorang jendral kesayangannya yang bernama Dian Wei9 yang juga ikut tewas dalam insiden penyerangan oleh Zhang Xiu ini.

Nyonya Ding10, istri pertama Cao Cao, merasa sangat sedih karena harus kehilangan Cao Ang dan terus menyalahkan Cao Cao karena hal ini. Akhirnya Cao Cao tidak tahan dengan Nyonya Ding dan mengusirnya. Nyonya Ding pulang kembali ke rumah orang tuanya. Beberapa bulan kemudian Cao Cao merasa menyesal dan akhirnya mendatangi rumah mertuanya dan kembali mencari Nyonya Ding. Mungkin hal yang biasa bagi kebanyakan orang, suami istri bertengkar, suami datang minta maaf ke  istri dan minta damai adalah hal yang lumrah, namum dalam hal ini Cao Cao bisa sampai melakukan hal ini tentu tidaklah mudah, apalagi mengingat saat itu Cao Cao adalah seorang Warlord yang sangat berkuasa di zamannya. Tentu tidak mudah bagi seorang Warlord seperti Cao Cao untuk merendahkan diri memohon maaf pada seorang wanita.

Ketika Cao Cao tiba, Nyonya Ding sedang menenun kain dan sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Cao Cao. Cao Cao terus berusaha membujuk Nyonya Ding untuk kembali, tapi tetap saja Nyonya Ding tidak bergeming. Akhirnya Cao Cao menyerah dan membebaskan Nyonya Ding untuk kembali menikah dengan orang lain. Tentu saja tidak ada yang berani menikahi  Nyonya Ding lagi, siapa yang berani menikahi mantan seorang Cao Cao? Sudah tidak sayang nyawa kali yach?

Di hari akhir Cao Cao sebelum kematiannya, Cao Cao pernah berkata: seumur hidup saya banyak melakukan hal baik dan jahat, aku tidak peduli dengan semua itu. Namun ada satu hal yang selalu aku sesalkan yaitu, kelak kalau diriku sudah berada di alam baka, jika Zi Xiu11 meminta seorang mama dari diriku, entah bagaimana aku menjawabnya.

Bisa dibayangkan seumur hidup Cao Cao melakukan begitu banyak hal baik dan buruk, namum di akhir hidupnya, seorang Cao Cao tetap menyesali perbuatannnya yang telah mengakibatkan Nyonya Ding pergi keluar meninggalkannya. Dari sini bisa terlihat bahwa Cao Cao adalah seorang yang penuh kasih, seorang yang berhati lembut terhadap pasangannya.

Namum jika Anda menilai Cao Cao adalah seorang yang berhati lembut, maka hal ini juga belum 100% benar. Kita mungkin akan tercengang dengan sifat lain dari seorang Cao Cao yang bisa berubah menjadi kejam dan beringas yang bisa membunuh siapa saja yang berseberangan politik dengan dirinya. Cao Cao bahkan bisa berpaling muka langsung tidak kenal dengan orang yang pernah membantunya, bahkan membunuhnya. Contohnya adalah kasus Xu You. Setelah membantu Cao Cao mengalahkan Yuan Shao, Xu You menjadi sombong dan lupa daratan. Setiap kali kemana-mana selalu menyombongkan diri bahwa tanpa dirinya Cao Cao tidak mungkin bisa mengalahkan Yuan Shao. Akhirnya Cao Cao tidak tahan dan membunuh Xu You. Inilah contoh kekejaman seorang Cao Cao.

Contoh kasus lain adalah kasus Bian Rang. Bian Rang adalah seorang terpelajar pada zaman itu, dan dia sangat tidak memandang seorang Cao Cao karena Cao Cao adalah keturunan seorang kasim12. Seperti yang kita ketahui, di akhir zaman Dinasti Han, para kasim berkuasa besar dan korupsi besar-besaran yang mengakibatkan Dinasti Han menjadi lemah dan jatuh ke dalam kekacauan besar. Kakek Cao Cao adalah seorang kasim, dan ayah Cao Cao adalah anak angkat dari seorang kasim. Jadi pada saat itu banyak orang terpelajar yang tidak memandang sebalah mata pada kasim, apalagi pada seorang keturunan kasim seperti Cao Cao.

Bian Rang sangat tidak memandang sebelah mata pada Cao Cao dan sering menghina leluhur Cao Cao yang seorang kasim. Sampai suatu ketika Bian Rang tertangkap dan dibawa ke hadapan Cao Cao, Bian Rang memohon minta ampun, tapi Cao Cao dengan tanpa perasaan dan pertimbangan langsung membunuh Bian Rang. Selain kasus Bian Rang, masih banyak kasus lain yang menimpa para terpelajar lain yang pernah menghina Cao Cao, semua dibunuh tanpa perasaan oleh Cao Cao.

Kasus Cao Cao membunuh kaum terpelajar yang pernah menghinanya ini memberikan pengaruh yang besar. Banyak orang yang akhirnya meninggalkan Cao Cao. Salah satunya adalah Chen Gong13. Di dalam Novel Kisah Tiga Kerajaan dikisahkan bahwa Chen Gong meninggalkan Cao Cao karena Cao Cao membunuh Lü  Boshe sekeluarga. Padahal dalam fakta sejarahnya adalah Chen Gong merasa tidak cocok dengan Cao Cao yang membunuh kaum terpelajar yang pernah menghinanya, akhirnya Chen Gong meninggalkan Cao Cao dan berbelot ke arah Lü Bu14.

Lalu apakah benar Cao Cao demikian kejam tanpa perasaan? Tidak juga. Di sisi lain, Cao Cao juga merupakan seorang yang pemaaf yang bisa memaafkan orang yang pernah mengkhianatinya. Contoh kasus adalah Wei Zhong. Pernah suatu saat ketika di awal-awal Cao Cao belum begitu sukses dalam karir militernya, banyak anak buahnya yang berbelot ke pihak lain. Saat itu Cao Cao selalu dengan bangga bilang biarkan aja semua orang pergi meninggalkan dirinya, Wei Zhong tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Tapi yang kemudian terjadi adalah Wei Zhong malah pergi meninggalkan Cao Cao ke pihak lain. Hal ini tentu membuat Cao Cao sangat marah dan malu. Cao Cao pun bersumpah akan menangkap Wei Zhong dan membunuhnya. Hingga ketika suatu ketika Cao Cao mulai bersinar di karir militernya, Wei Zhong akhirnya tertangkap dan di bawa kehadapan Cao Cao. Semua orang berpikir Cao Cao pasti akan membunuh Wei Zhong, tapi ternyata di luar dugaan, Cao Cao malah memaafkan Wei Zhong dan membebaskannya, bahkan masih memberikan jabatan kepada Wei Zhong sesuai dengan kemampuannya. Ini adalah contoh hati yang pemaaf dari seorang Cao Cao, hati yang bisa menerima semua orang, bahkan orang yang pernah mengkhianatinya.

Contoh lain adalah kasus Chen Lin. Pada saat Pertempuran Guandu, dari pihak Yuan Shao memerintahkan Chen Lin untuk menulis 檄文 (xí wén). Xí wén adalah surat terbuka untuk menyudutkan pihak musuh dan mendapatkan dukungan rakyat. Zaman dulu ketika untuk memulai sebuah kampanye militer, setiap pihak memerlukan sebuah alasan yang logis untuk mendapatkan dukungan moral dari rakyat. Oleh karena itu, Yuan Shao memerintahkan Chen Lin menulis xí wén untuk memaki pihak Cao Cao. Di dalam xí wén yang ditulis oleh Chen Lin, Chen Lin memaki Cao Cao sampai ke leluhurnya dengan kata-kata yang sangat tajam. Hal ini tentu membuat Cao Cao sangat marah sekali.

Ketika Yuan Shao kalah perang dari Cao Cao, Chen Lin tertangkap dan dibawa kehadapan Cao Cao, banyak yang juga berpikir Cao Cao akan membunuh Chen Lin, tapi ternyata sebaliknya Cao Cao malah memaafkan Chen Lin dan kembali memberikannya jabatan.

Begitu juga dengan kasus Chen Gong. Ketika Lü Bu kalah oleh Cao Cao, Chen Gong tertangkap dan dibawa ke hadapan Cao Cao. Cao Cao ingin membebaskan Chen Gong, tapi Chen Gong ngotot tidak ingin dibebaskan. Cao Cao bertanya: Gong Tai15, jika Anda mati, bagaimana dengan ibu Anda? Chen Gong menjawab: saya dengar orang yang memimpin dunia dengan atas dasar bakti, tidak akan membunuh orang tua orang lain. Bagaimana kehidupan ibu saya kelak, itu semua kembali pada kebijaksanaan tuan. Cao Cao kembali bertanya: Gong Tai, jika Anda mati bagaimana dengan anak dan istri Anda? Kembali Chen Gong menjawab: saya dengar orang yang memimpin dunia dengan atas dasar cinta kasih tidak akan menyakit anak istri orang lain. Bagaimana nasib anak istriku kelak semua tergantung kebijaksaan tuan kelak. Akhirnya Cao Cao sambil menangis mengantar Chen Gong ke tempat hukuman mati. Cao Cao membawa keluarga Chen Gong ke Xu Chang dan memperlakukan mereka dengan sangat baik.

Dari beberapa kasus di atas bisa dilihat bahwa Cao Cao adalah sosok yang sangat penuh dengan misteri yang tidak bisa ditebak kepribadiannya. Cao Cao bisa menjadi seorang yang pemaaf di saat yang bersamaan juga seorang yang pendendam. Cao Cao bisa berubah dari seorang yang lemah lembut penuh cinta kasih menjadi seorang yang kejam tanpa perasaan. Jika kita hanya melihat Cao Cao dari satu sisi, maka kesimpulan yang kita dapatkan tentang seorang Cao Cao adalah bagaikan orang buta yang meraba-raba. Cao Cao mungkin merupakan satu-satunya sosok tokoh sepanjang sejarah China yang paling sulit digambarkan. Dia dimaki dan dipuji pada saat bersamaan di sepanjang sejarah China yang panjang. Bisa disimpulkan bahwa Cao Cao adalah seorang yang pintar dan penuh strategi licik, seorang yang berani jujur terhadap keburukan diri sendiri, seorang yang penuh curiga pada orang lain, seorang pemaaf, seorang pendendam, seorang yang penuh wibawa, seorang yang penuh cinta kasih pada pasangan, dan juga seorang yang berhati kejam, tapi juga seorang yang penuh cinta kasih. Inilah gambaran berbagai sisi kepribadian seorang Cao Cao yang bisa berubah setiap saat. Seorang yang bisa mempunyai begitu banyak kepribadian yang saling bertentangan di dalam satu jiwa, adalah seorang yang LUAR BIASA yang tiada duanya. Satu kata yang cocok menggambarkan seorang Cao Cao dalam bahasa mandarin adalah seorang 奸雄 (jiānxióng)16. Lalu apa itu Jiānxióng? Kita akan membahasnya secara lebih mendalam di tulisan berikutnya.


  1. Pertempuran Guandu: Perang antara pihak Cao Cao dan Yuan Shao yang terjadi pada tahun 200M. Perang ini dimenangkan oleh Cao Cao dan mengkukuhkan hegemoni kekuasaan Cao Cao di China bagian Utara, yang menjadi awal cikal bakal berdirinya Negara Cao Wei pada selama periode Tiga Kerajaan.
  2. Pertempuran Chibi: Perang yang terjadi pada tahun 208 – 209 M antara aliansi gabungan pasukan Sun Quan, Liu Bei dan Liu Qi melawan hegomoni kekuasan Cao Cao. Perang ini dimenangkan oleh pihak aliansi Sun Quan, Liu Bei dan Liu Qi yang mengkukuhkan kekuasaan mereka pada China bagian Selatan Sungai Yangtze.
  3. Pertempuran Yiling: Perang yang terjadi pada tahun 221 – 222 M antara pihak Negara Shu melawan Negara Wu. Perang berakhir dimenangi oleh pihak Negara Wu dan menghentikan invasi Negara Shu serta diakhiri dengan meninggalnya Liu Bei.
  4. Di Novel Kisah Tiga Kerajaan karya Luo Guanzhong dikatakan jumlah pasukan Yuan Shao sebesar 700.000 tentara dan Cao Cao sebesar 70.000 tentara. Dalam catatan sejarah yang resmi jumlah pasukan yang sebenarnya adalah Cao Cao sebesar lebih kurang 40.000 tentara dan Yuan Shao sebesar 110.000 tentara.
  5. Xu You, nama kehormatan Ziyuan, adalah seorang penasehat pada akhir zaman Dinasti Han. Xu You melayani Yuan Shao dari tahun 191 – 200 M, lalu kemudian berbelot ke Cao Cao sejak tahun 200 M, yang akhirnya dibunuh oleh Cao Cao pada tahun 204 M.
  6. Cao Man Zhuan 曹瞒传adalah catatan sejarah tentang Cao Cao yang dicatat oleh Negara Wu.
  7. Zhang Xiu adalah seorang Panglima Militer (Warlord) pada akhir zaman Dinasti Han.
  8. Cao Ang, nama kehormatan Zixiu, adalah anak sulung Cao Cao dari Lady Liu (刘夫人). Karena Lady Liu meninggal di usia muda, Cao Ang dibesarkan oleh Lady Ding yang dianggap seperti anak kandung sendiri.
  9. Dian Wei adalah seorang Jendral Militer pada akhir zaman Dinasti Han yang melayani Cao Cao. Dian Wei merupakan salah satu Jendral kesayangan Cao Cao yang terkenal akan kekuatan dan keberaniannya. Dian Wei tewas dalam Pertempuran Wancheng ketika melindungi Cao Cao dari pemberontakan Zhang Xiu. Konon katanya setiap kali Cao Cao melewati kuburan Dian Wei, Cao Cao selalu berhenti dan menangisi kepergian Dian Wei.
  10. Nyonya Ding (Lady Ding) adalah istri resmi pertama Cao Cao. Lady Ding mandul dan tidak pernah melahirkan Cao Cao anak. Ketika Lady Liu meninggal, anaknya Lady Liu dibesarkan oleh Lady Ding yang dianggap seperti anak kandung sendiri. Lady Ding seharusnya menjadi permaisuri Cao Cao karena dia adalah istri resmi Cao Cao, tapi karena Lady Ding meninggalkan Cao Cao setelah kematian Cao Ang, akhirnya Lady Bian yang diangkat menjadi permaisuri.
  11. Ziuxiu adalah nama kehormatan dari Cao Ang.
  12. Kasim adalah seseorang yang telah kehilangan kesuburannya karena telah dikebiri sebelum memasuki dan bekerja di istana sehingga tidak bisa memiliki keturunan. Kakek Cao Cao adalah seorang kasim, dan ayah Cao Cao adalah anak angkat dari seorang kasim.  
  13. Chen Gong (? – 199M), nama kehormatan Gongtai, adalah penasehat perang Lü Bu pada akhir zaman Dinasti Han. Awalnya Chen Gong melayani Cao Cao, namum karena tidak sepandangan dengan Cao Cao akhirnya Chen Gong berbelot ke arah Lü Bu.   
  14. Lü Bu (? – 199M), nama kehormatan Fengxian, adalah seorang Jendral Militer (Warlord) pada akhir zaman Dinasti Han. Lü Bu terkenal karena kekuatannya. Selain itu Lü Bu terkenal karena membunuh Dong Zhuo.  
  15. Gongtai adalah nama kehormatan Chen Gong.
  16. Jiānxióng (奸雄) adalah sebutan untuk seorang yang berkuasa dan mempunyai pengaruh yang besar serta bisa melakukan hal besar di dalam hidupnya, namun disertai dengan kelicikan di dalam dirinya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama